Selamat Datang di MJBS FM


widgets

Rek.MJBS FM

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillahhirrahmannirrahim Radio komunitas petani MJBS FM sedang dalam masa uji coba frekuensi mohon dukungan semua pihak agar terlaksana pembangunan Radio Komunitas Petani MJBS FM,sebagai Radio Komunitas Petani warga Kuta Meuligou Kecamatan Sawang Aceh Utara Yang mau Bantu Dana serta Infaq,Sedekah,Zakat dan Hibahkan Dana untuk Pembangunan Radio Komunitas Petani MJBS FM kelompok Tani Nur Al-Amin Kuta Meuligou Sawang Aceh Utara. Silakan Transfer Ke BANK ACEH a/n M.NUR dgn Nomor Rekening 036.02.03.610309-2 Atas Bantuan dan Dukungan Semua Pihak Tenggku M.Nur,M.A selaku pendiri dan penanggung jawab. Rakom Petani MJBS FM mengucapkan Terima Kasih,Semoga Amal Ibadah Infaq,Sedekah,Zakat,Hibah semua pihak di Terima dan di Ridhai ALLAH. dan bagi Siapa yang Mau jadi sponsor atau mitra kerja Radio Komunitas Petani MJBS FM hubungi Tgk.M.Nur,M.A di Hp. 085370641972 atau email : mjbs.fm@gmail.com atau http://mjbsfm.blogspot.com

.

MJBSfm STREAMING
RAKOM PETANI NUR AL-AMIN
Contact :085370641972

Senin, 06 Oktober 2014

Adat Potong Gigi by Mas Kiki Ahli Potong Gigi Tradisi Kikir Gigi Tujuan Pengobatan Gigi Call Center Konsultasi 085370641972


RITUAL ADAT PARA ZEDHE SUKU NGADA RITUAL ADAT PARA ZEDHE SUKU NGADA 1.1 Latar Belakang Bangsa Indonesia dan negara-negara sedang berkembang lainnya di dunia ini pada umumnya sedang giat dalam bidang pembangunan dan modernisasi. Pembangunan yang dilaksanakan merupakan gerak perubahan menuju pada kemajuan. Perubahan ke arah kemajuan dalam pembangunan itu sendiri berimplikasi pada perubahan sosial. Perubahan sosial ini menyangkut tata nilai, sikap dan tingkah laku. Dengan adanya perubahan ini maka nilai–nilai hidup yang bersifat tradisional cenderung dipahami sebagai suatu bentuk keterbelakangan atau warisan bangsa yang usang. Kondisi keterbelakangan ini merupakan kendala yang besar bagi proyek pembangunan di sektor kebudayaan yang erat kaitannya dengan proses pembangunan sosial, ekonomi, dan ekologi masyarakat. Kebudayaan merupakan totalitas dari sesuatu yang dipelajari manusia, akumulasi pengalaman yang dialihkan secara sosial, dan merupakan pandangan hidup (way of life) dari sekelompok orang dalam bentuk perilaku, kepercayaan, nilai dan simbol yang terima anggota masyarakat melalui proses komunikasi peniruan dari generasi ke generasi selanjutnya (Liliweri,2003:8). Kebudayaan yang tradisional dikatakan baik bukan berdasarkan ukuran etika dan estetika tetapi kebudayaan tradisional membuat manusia melestarikan kehidupannya dari lingkungan tertentu. Di sini letak fungsi terpenting dari kebudayaan tradisional sehingga mempunyai hak yang sama untuk dipelajari dan dihargai. Menerima nilai–nilai dari kebudayaan berarti menghargai martabat dari masyarakat tersebut. (Kirchteger,1996:107). Dalam mitos orang Ngadha, dikatakan bahwa dunia pada mulanya berupa watu boto ne’e tana lala – batu yang mencair dan tanah yang berlumpur. Orang Ngadha meyakini dunia atau alam semesta ini diciptakan oleh Dewa. Ada tiga lapis dunia yang terletak satu di atas yang lain atau semacam tingkat dunia; bumi sebagai tempat diam manusia, lalu dunia di atas yaitu lizu atau langit tempat diam Dewa agung, dan dunia di bawah bumi, tempat diam nitu dan jiwa-jiwa yang sudah berpisah dari badan. Dalam arti yang paling asli, bumi selalu dikaitkan dengan langit. Menurut prinsip oposisi binari Levi Strauss, pemikiran masyarakat pra-modern selalu bertolak dari dua hal yang bertentangan namun memiliki kaitan. Dalam pemikiran asli orang Ngadha menyebut bumi dalam kaitannya dengan langit. Lizu yang berarti langit diperlawankan dengan tana yang berarti bumi sehingga disebut lizu ne’e tana. Pemahaman semacam ini ditemukan juga dalam penamaan dan pemahaman tentang wujud tertinggi. Orang Ngadha menyebut wujud tertinggi sebagai Dewa zeta-Nitu zale. Dewa bertahta di langit (di atas) dan Nitu bertahta di bumi (di bawah). Dewa menjadi bapak leluhur yang pertama dan bumi (nitu) menjadi ibu leluhur yang pertama menurut pandangan orang-orang Ngadha. (http://my.opera.com/Komunitas%20Nitapleat/blog/2007/12/14/h-bhezo-svd-pandangan-orang-ngada-tentang-kosmos) Dalam pembagian wilayah menurut budayanya di Kabupaten Ngada, Kecamatan So’a ditempatkan sebagai daerah dengan etnis yang mempunyai cukup banyak hasil budayanya, namun pada kenyataannya semua hasil kebudayaan ini tidak diusahakan sebagai aset daerah dalam bidang kepariwisataan. Sejauh ini orang hanya mengenal obyek air panas Mengeruda yang merupakan pariwisata alam, padahal kebanyakan wisatawan terutama wisatawan manca negara sangat tertarik dengan periwisata budaya yang merupakan hasil akal pikiran manusia sendiri. Hal lain yang memperparah keadaan adalah kurang pahamnya orang-orang yang menjadi pelaksana acara terhadap beberapa ritual yang prosesnya berjalan panjang dan rumit. Hal ini di perburuk lagi dengan kehadiran orang yang hanya untuk menyaksikan serunya upacara adat tetapi tidak mengetahui secara jelas apa makna dari setiap proses upacara dimaksud. Ini cukup disesalkan karena dengan adanya tradisi seharusnya akan membuat orang untuk mengerti dan memaknainya dalam hidup bukan sebaliknya. Ironis memang bahwa banyak upacara adat yang dilakukan oleh orang So’a namun mereka sendiri tidak mengenal maknanya secara pasti dan jelas. Ada banyak sekali upacara adat yang merupakan hasil kebudayaan yang terdapat di So’a di antaranya Sagi (Tinju Adat), Dero (upacara tarian untuk mengiringi tinju atau penyemangat terhadap orang yang akan bertinju yang di lakukan pada malam sebelum tinju), Tu Ngawu ,Feka (upacara pendewasaan diri), RoriLako (berburu), Sapu, Kiki Ngi’i (acara potong gigi bagi anak wanita), Yo Goe, Die rie (upacara adat dengan nyanyi-nyanyian dan pantun mengiringi kepergian dan kedatangan para pemburu), Dheli, Para Zedhe, Dhodho (acara tusuk telinga bagi anak wanita), Bhole (upacara syukuran panen) dan lain-lain yang dilakukan setahun sekali, setiap lima tahun dan ada juga yang dilakukan sepuluh tahun sekali. Dan kegiatan inipun dilakukan secara umum dalam semua lapisan masyarakat dan diadakan cukup meriah dan ramai. Setiap upacara adat mempunyai ciri khas dan keunikan tesediri karena itu peneliti mengambil salah satu upacara adat/ritual yang yang dalam tingkatan adalah urutan kedua dari atas menurut struktur/tingkatan upacara adat di So’a yang terkenal yaitu Para Zedhe. Masyarakat desa Loa percaya dan begitu yakin akan wujud tertinggi (Dewa Zeta Nitu Zale) yang mereka alami dalam proses kehidupan budayanya. Selain keyakinan akan adanya Dewa Zeta Nitu Zale, mereka juga mempunyai kesadaran yang sangat luar biasa terhadap pentingnya hidup besama dalam masyarakat yang mana seseorang yang merasa mampu dan berlebihan harus membagikan kepada orang lain yang berkekurangan. Dengan ini perasaan sama yang timbul dalam diri manusia akan tercipta, sehingga muncul rasa hormat-mrnghormati yang terhadap sesama yang besar. Sebagai bukti bahwa masyarakat Desa Loa melakukan ritual adat Para Zedhe. Para Zedhe dilakukan dalam jangka waktu yang cukup lama yaitu antara 5 – 10 tahun sekali karena harus membutuhkan persiapan dan biaya yang cukup mahal dan besar. Menurut asal katanya, Para = menusuk, Zedhe = merayakan pesta. Para = Zedhe adalah pesta adat yang diadakan oleh seorang pribadi dengan kehadiran seluruh kampung dengan penonton-penonton dari kampung lain. Yang menjadi inti dari upacara ini adalah terletak pada orang yang mengadakan upacara pesta atau tuan upacara zedhe itu yang disebut Mori Zedhe (A.Momersteeg, D. Margaretha.1999:17). Yang ditusuk dan ditonton adalah hewan kerbau di mana kegiatan ini adalah klimaks dari semua yang sudah dilewati. Kerbau sebagai hewan kurban hanya sebagai simbol untuk meresmikan orang tersebut untuk bisa mencapai tempat yang sempurna. Para Zedhe memiliki tiga bagian penting yang harus dilewati oleh mori zedhe yakni; (1) mempunyai nilai religius yang tinggi. Pada bagian ini keyakinan adanya wujud tertinggi terlihat jelas lewat upacara pemanggilan arwah leluhur untuk senantiasa hadir dalam setiap proses acara para zedhe. Bagian lainnya adalah pengakuan terhadap status sosial seseorang dalam kampungnya terutama kematangan religinya. Maka ketika seseorang yang telah melakukan upacara ini meninggal kepadanya akan dilakukan tanda khusus sehingga dapat didengar dan diketahui oleh seluruh warga kampung ataupun di luar kampung tersebut. (2) menyebutkan asal usul keturunan. Pada bagian ini mori zedhe akan menyebutkan asal usul keturunan sampai pada lapis yang ke enam dengan menyebutkan nama-nama orang dari setiap keturunan itu, dan (3) pembagian hak waris bagi anak-anaknya. Mendeklarasikan pembagian hak warisan mori para kepada anak-anaknya yang dilakukan dengan suatu upacara yang disebut sa/tame di depan umum. Kesanggupan dan kesiapan dari Mori Zedhe untuk melakukan dan mengikuti proses dalam upacara ini adalah sangat penting dan hal yang harus ia lalui dan tidak boleh ada yang menyimpang, karena kesemuanya adalah demi menjaga hubungan yang baik dengan Dewa Zeta Nitu Zale. Pada hari para dibunuh banyak kerbau, secara berturut turut kerbau-kerbau tersebut diikat satu persatu pada Ngadhu, dengan tali yang panjang. Lalu pada setiap kerbau itu tuan upacara menyanyikan pujian untuk nenek moyang atau kepada orang-orang besar yang hadir atau sa. Adapun bagian lain lagi yang disebut Sa/tame adalah menyebutkan nama orang, menyebutkan asal usul keturunan, memuji orang dengan suara besar di tengah kampung, diikuti dengan doa atau tarian adat (Zai laba para ) yang sangat khas. Sa adalah salah satu bagian penting dari upacara para sebelum pembunuhan setiap kerbau. Lalu kerbau itu dikejar dan ditikam dengan tombak oleh pemuda-pemuda yang berani, sedangkan kerbau itu lari dan menyerang. Aktivitas tersebut berlangsung secara simultan, sampai kerbaunya terluka berat, jatuh atau mati. Kerbau-kerbau yang mati itu ditinggalkan begitu saja di tempatnya, sampai kerbau yang terakhir dibunuh, baru bisa disembelih semua dan diberi makan kepada seluruh kampung/suku. Para penonton berdiri di atas tembok-tembok(kota) keliling halaman tengah kampung di mana upacara para diadakan, jika tidak ada tembok dibuat pagar dari bambu yang diikat secara rapat dan tinggi. Upacara akan terus dilakukan dengan perjamuan bersama serta pemberian beberapa hadiah dari kerabat atau keluarga dari pihak saudari (Ana weta) kepada orang yang melakukan upacara Para Zedhe ini. Sehingga akan terlihat suasana keakraban dari seluruh keluarga. Persaudaraan yang telah terjalin dari berlapis–lapis sebelumnya akan terlihat akrab kembali sehingga akan terciptanya kehidupan masyarakat yang harmonis. Ada dua aspek yang membuat penulis tetarik terhadap upacara adat ini yaitu: (1) pada prosesnya yang panjang dan cukup rumit dimana banyak yang belum mengetahui termasuk penulis sendiri, dan (2) upaya-upaya yang dilakukan agar upacara ini tetap dilestarikan yang mungkin dengan globalisai pada masa sekarang dan yang akan datang upacara ini bisa saja dikatakan adalah suatu pemborosan dan sesuatu yang bermasalah karena pada upacara klimaks di mana hewan kerbau disiksa dan dibunuh secara sadis padahal hewan juga merupakan mahluk ciptaan Tuhan sama seperti manusia. Kekewatiran penulis kepada generasi muda yang akan datang yang mungkin tidak akan banyak mengetahui dengan pasti urutan upacara, proses, dan makna sehingga akan terjadi banyak penyimpangan dan kesalahan yang membuat keaslian upacara ini bisa bergeser. Karena itu, penulis sebagai putera daerah penganut kebudayaan Para zedhe tertinspirasi untuk memberikan kontribusi bagi masyarakat setempat dengan mendokumentasikannya sehingga bisa dibaca atau suatu saat nanti paling kurang bisa menjadi acuan ketika dokumen ataupun sumber lain tidak ditulis secara jelas. Hal lain yang turut mendukung bagi penulis adalah untuk memperkenalkan budaya So’a ke publik agar bisa menambah wawasan dan pelajaran tentang budaya bagi orang-orang atau masyarakat lain yang belum mengenalnya. Selain itu juga tulisan ini bermaksud untuk memperkenalkan lebih luas lagi tentang pariwisata budaya yang ada di Kabupaten Ngada, khususnya Kecamatan So’a . Berpijak pada kenyataan di atas maka dapat diungkapkan bahwa upacara atau ritual merupakan suatu hal yang dilakukan manusia untuk barbakti pada kekuatan tertinggi yang memiliki kekuatan trasedental yang mengatasi hidup manusia. Upacara ini dilakukan dengan sangat teliti dan cermat. Perhitungan yang cermat dan teliti dari penganut adat akan sangat menentukan keberadaan upacara ini. Kesalahan dalam upacara ini akan menyebabkan hal yang fatal bagi orang dan keluarga yang melakukan upacara ini sebagai akibat dari kemarahan dari wujud tertinggi. Bila terlanjur melakukan kesalahan, maka harus secepatnya melakukan pemulihan untuk menghindari kemurkaan dari wujud tertinggi yang akan mereka alami (Koentjaraningrat, 1998:70). Berdasarkan pemikiran di atas, maka dalam kehidupan bermasyarakat yang memiliki budaya tradisional seperti halnya Desa Loa, masyarakat harus lebih sadar untuk lebih menghayati budaya sendiri, karena dengan berakar dan mengenal budaya sendiri dapat memberikan kontribusi yang positif bagi kelangsungan hidup bermasyarakat. Kebudayaan daerah dengan berbagai upacara adat mempunyai nilai yang sangat baik dalam proses menjaga dan melestarikan keharmonisan keluarga, suku dan masyarakat serta dengan lingkungan alam sekitar pada umumnya. Atas dasar pemikiran yang sama, serta melihat beberapa aspek yang cukup berperan di dalamnya, maka penulis berinisiatif untuk mengangkat masalah ini sebagai karya ilmiah dengan judul “Ritual Adat Para Zedhe Di Desa Loa, Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada”. 1.2 Rumusan Masalah Masalah adalah sesuatu yang harus dipecahkan (Poerwadiminta 1990:6034). Sedangkan menurut Soerahman, masalah adalah setiap kesulitan yang menggerakan manusia untuk memecahkannya atau kebutuhan yang perlu dipecahkan dalam hidup (1990:3). Dengan demikian masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana proses ritual adat Para Zedhe di desa Lo’a kecamatan So’a kabupaten Ngada dilaksanakan? Adakah fungsi agama (kepercayaan), sosial dan pendidikan dalam ritual adat Para Zedhe di desa Lo’a kecamatan So’a kabupaten Ngada? Upaya–upaya apa saja yang dilakukan agar ritual adat Para Zedhe di desa Lo’a, kecamatan So’a kabupaten Ngada tetap dilestarikan? 1.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan jawaban terhadap permasalahan yang di rumuskan. Jadi tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah untuk memperoleh paparan yang jelas dan rinci mengenai hal–hal sebagai berikut: Untuk mengetahui proses pelaksanan ritual adat Para Zedhe di desa Lo’a, kecamatan So’a kabupaten Ngada tetap dilestarikan. Untuk mengetahui fungsi agama (kepercayaan), sosial dan pendidikan dalam ritual adat Para Zedhe di desa Lo’a kecamatan So’a kabupaten Ngada. Untuk mengetahui upaya-upaya yang dilakukan oleh tokoh-tokoh masyarakat agar upacara ini tetap dilestarikan. 1. 4 Manfaat Penelitian a. Manfaat Teoritis Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah: 1. Untuk menambah khasanah dan wawasan tentang kebudayaan lokal bagi semua pihak terutama pihak civitas academika sehingga bisa dijadikan bahan kajian untuk pembelajaran dan pengenalan akan budaya sendiri (lokal). 2. Untuk kajian dan sumber bagi para peneliti lain ataupun peneliti selanjutnya yang mengambil topik yang sama tetapi dari aspek yang berbeda. b. Manfaat Praktis Manfaat praktis dari penelitian ini adalah untuk menambah wawasan dan pengenalan lebih jauh akan budaya sendiri bagi masyarakat Desa Loa. Selain itu juga bermanfaat bagi pemerintah daerah Ngada sehingga bisa dijadikan budaya lokal sebagai tempat pariwisata untuk meningkatkan pendapatan daerah setempat terutama dari bidang pariwisata budaya, karena hanya dengan adat yang berbudaya dan berakar pada keaslian daerah bisa meningkatkan hakat martabat serta moraliatas dalam kehidupan bermasyarakat. BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka Beberapa sumber terdahulu yang topiknya sama atau mirip yang dijadikan acuan untuk menulis proposal ini adalah “Ritual Ka Todo” Di Desa Pautola Kecamatan Keo Tengah Kabupaten Ngada Tahun 2005 oleh Arnoldus Goo Tori, Program Studi Pendidikan Sejarah Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Flores-Ende. Tulisan ini membahas tentang beberapa hal yang berhubungan dengan kepercayaan dalam upacara inisiasi yang mana juga membahas tentang hubungan manusia dengan alamnya. Tulisan yang lain adalah Buku “Punu Nange Cerita Daerah asal So’a” karangan Adrianus Momersteeg, SVD dan Margaretha Dirkzwager pada tahun 1999 penerbit Yayasan Obor Jakarta. Dalam buku ini diceritakan mitologi tentang asal mula hewan kerbau sebagai kurban dalam masyarakat So’a di samping membahas beberapa upacara adat di So’a termasuk Para Zedhe. Karena topik yang penulis angkat juga menyangkut tentang dunia lain menurut keyakinan orang So’a, maka tulisan oleh Br. Hendrik P. Bhezo, SVD tentang Relasi manusia dan alam dalam konteks pemikiran orang ngadha tentang kosmos. Yang ditulis dalam http://my.opera.com/Komunitas%20Nitapleat/blog/2007/12/14/h-bhezo-svd-pandangan-orang-ngada-tentang-kosmos) yang membahas bagaimana pandangan orang Ngadha terhadap kekuatan lain yang ada di sekitarnya dan bagaimana orang Ngadha mengimplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari dalam hubungannya dengan Dewa zata nitu zale juga menjadi salah satu bagian yang sangat penting. Tulisan lain yang penulis masukan adalah Agama Orang Ngadha: Kultus, Pesta dan Persembahan (ms) (Vol. 2), oleh Paul Arndt, SVD Maumere: Puslit Candraditya(2007:23). Tulisan ini mengedepankan tentang peranan agama dalam kepercayaan asli yang melekat dan telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan di dalam diri orang Ngadha serta beberapa kegiatan yang menyangkut dengan keyakinan tersebut. Tulisan-tulisan terdahulu tersebut di atas dengan maksud memberikan kontribusi bagi penulis untuk menganalisis lebih tajam lagi mengenai topik yang akan dibahas oleh penulis. 2.2 Landasan Teori Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori yang menyangkut kebudayaan karena masih berhubungan dengan kegiatan religi dalam kehidupan kemasyarakatan, oleh karena itu maka peneliti menggunakan teori kebudayaan yang relavan dengan penelitian ini Menurut Koentjaraningrat (1985:42) upacara sesajian merupakan upacara religi yang dilaksanakan oleh manusia sebagai lambang untuk berkomunikasi dengan wujud tertinggi. Keyakinan manusia dipengaruhi oleh ritus dan upacara yang pada mulanya berkembang dari tindakan ilmu gaib. Keyakinan paling awal yang menyebabkan terjadinya religi dalam masyarakat adalah keyakinan adanya kekuatan sakti (mana) dalam hal-hal yang luar bisa dalam gaib. Keyakinan pada kekuatan sakti yang bersifat kabur itu, kemudian meluas menjadi keyakinan bahwa segala hal, tidak hanya hal-hal yang luar biasa dan gaib, tetapi juga banyak benda dan tumbuh-tumbuhan di sekitar manusia yang diperlukan dalam hidupnya sehari-hari dianggap berjiwa dapat berpikir seperti manusia (Animatisme). Proses perkembangan keyakinan manusia adalah keyakinan tentang adanya berbagai macam roh yang seakan-akan memiliki identitas serta kepribadian sendiri, tetapi yang sebagian menempati berbagai hal tertentu di sekeliling tempat kediaman manusia dan sebagian lagi menempati dunia gaib. Perkembangan yang paling penting adalah keyakinan akan adanya dewa-dewa yang telah mantap dalam pikiran manusia sebagai pemujanya. Kenyataan dan kemantapan wujud ini disebabkan oleh karena pengalaman dan tingkah laku dewa-dewa yang dapat dilukiskan dalam mitologi dan himpunan dongeng suci dari kebudayaan yang bersangkutan (G. Tori 2004:8-9) Koentjaraningrat juga membagi konsep religi kedalam 5 komponen yaitu: (1) Emosi keagamaan, (2) Sistem keyakinan, (3) Sistem ritus dan upacara, (4) Peralatan ritus dan (5) upacara Umat beragama. Sistem keyakinan dan religi mempunyai hubungan berwujud pikiran dan gagasan manusia yang menyangkut keyakinan dan konsepsi manusia tentang sifat-sifat Tuhan mengenai ciri dan wujud kekuatan sakti, roh nenek moyang, roh jahat , dewa-dewa dan makhluk halus lainnya. Dengan demikian sistem religi mempunyai hubungan yang erat dengan upacara dalam suatu religi di mana berwujud aktivitas dan tindakan manusia dalam melaksanakan kebaktian kepada Tuhan, dewa-dewa dan roh nenek moyang yang dalam usahanya untuk berkomunikasi dengan Tuhan dan penghuni dunia lainnya. Ritus dalam upacara religi biasanya berlangsung berulang-ulang pada setiap musim tergantung pada isi acara dan terdiri dari beberapa tindakan seperti berdoa, berwujud, bersaji, berkorban, makan bersama, menari dan menyanyi, Daeng (1970:86), mengemukan unsur-unsur pikiran alam religius sebagai berikut: Kepercayaan terhadap makluk-makluk halus. Kepercayaan terhadap kekuatan sakti yang menempati alam semesta secara khusus benda-benda yang dianggap sakral. Kepercayaan terhadap kekuatan sakti yang tersembunyi yang dapat digunakan untuk menolak suatu rencana. Kepercayaan terhadap kekuatan sakti yang terdapat pada benda-benda tertentu. Kepercayaan akan Tuhan terlihat dalam berbagai bentuk dan berbagai wujud. Ada kelompok masyarakat yang mengakui adanya satu Tuhan ada pula yang mengakui adanya berbagai dewa yang memuja dan menyembah banyak Tuhan, namun masih ada yang meyakini dan mengakui bahwa dewa-dewa lain yang mempunyai kekuatan dan kekuatan pada hal-hal tertentu. Selain itu ada sekelompok masyarakat yang memiliki kebudayaan tradisional mempunyai keyakinan bahwa Tuhan itu berdiam di langit karena mereka melihat segala yang hebat dan kuat berada seperti matahari, bulan dan bintang. Mereka juga percaya bahwa ada orang-orang tertentu mempunyai daya-daya magis yang dapat mematikan atau mendapatkan bencana dan malapetaka bagi orang lain. (Lourens, 1994:11-12) Dunia gaib dapat dihadapi oleh setiap orang dalam berbagai macam perasaan seperti cinta, hormat, berbakti, takut dan ngeri. Perasaan itu mendorong manusia untuk melakukan berbagai kegiatan yang bertujuan menarik keharmonisan dalam hubungan alam raya dan dunia gaib. Upacara-upacara adat berfungsi mengatur hubungan antara manusia dengan arwah para leluhur, roh-roh halus atau makluk gaib lain yang berada di sekeliling alam sekitarnya. Usaha-usaha dalam upacara ini berperan untuk mengendalikan dan melestarikan tata hidup kosmos dan totalitas yang disebabkan oleh manusia dalam meningkatkan status sosial dalam kampungnya dengan tidak mengabaikan wujud tertinggi “Dewa zeta nitu zale” bahkan menghormatinya karena melebihi kekuatan manusia, sehingga dapat menjamin keabadian hidup dalam bermasyarakat yang berkelanjutan atau sustainabel. BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif. Pendekatan deskriptif adalah suatu prosedur penelitian yang mendeskripsikan perilaku orang, peristiwa atau gejala tertentu secara rinci dan mendalam. Pendekatan ini terperinci dimaksudkan untuk mengungkapkan secara jelas tentang Ritual Adat “Para” di Desa Lo’a, Kecamatan So’a, Kabupaten Ngada”. Setelah pendekatan ini digunakan maka selanjutnya peneliti melakukan serangkaian kegiatan di lapangan atau wawancara dan dilanjutkan dengan berbagai permasalahan lain yang diteliti. 3.2 Metode Penelitian Bertolak dari penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif maka metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Metode tersebut digunakan karena data yang dikumpulkan adalah data kualitatif yang diperoleh di lapangan. Data tersebut diperoleh dari seseorang atau kelompok yang akan diwawancarai oleh peneliti. Kondisi seperti ini menjamin obyektivitas atas jawaban yang diberikan, oleh karena keautentikan jawaban sangat tergantung pada keseluruhan penampilan informasi saat berlangsungnya wawancara. Dengan demikian untuk mengumpulkan data dari informan sebaiknya dari wawancara yang mendalam sambil mencatat dan merekam untuk memperoleh data yang berkualitas lengkap. 3.3 Subyek Penelitian Yang menjadi subyek penelitian adalah para mosalaki 2 orang, tokoh masyarakat 3 orang dan tokoh pemuda 2 orang. Dari semua informan ini penulis anggap sebagai orang yang yang bisa menjamin kebenaran informasi yang akan diberikan. 3.4 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan pada masyarakat Desa Lo’a, Kecamatan So’a, Kabupaten Ngada. Alasan peneliti memilih lokasi ini karena setelah ditelusuri dan dipelajari di Desa Lo’a masih memegang teguh pada adat ini dan merupakan salah satu desa yang cukup berperan aktif memajukan kebudayaan Para Zedhe serta masih mempunyai banyak para informan yang cukup menguasai tata cara pelaksanaan/prosesnya.. 3.5 Instrumen Penelitian Kedudukan peneliti dalam penelitian kualitatif adalah sebagai instrumen utama sekaligus merupakan perencana pengumpulan data dan pada akhirnya menjadi pelapor hasil penelitiannya. Instrumen atau alat penelitian ini sangat penting karena menjadi segalanya dari keseluruhan proses penelitian. 3.6 Teknik Pengumpulan Data Dengan memperhatikan metode yang digunakan maetode kualitatif, maka teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Teknik Wawancara Suatu teknik yang digunakan peneliti guna mengumpulkan data secara langsung dari para informan yaitu tua-tua adat yang dipercaya dan mengetahui secara jelas tentang proses ritual adat Para Zedhe. Selain itu data juga diperoleh melalui tokoh masyarakat dan kaum muda. 2. Teknik Dokumentasi Teknik ini penulis menggunakan perlengkapan data dengan mengambil dari sumber data dalam bentuk catatan-catatan tertulis ataupun video cassette tentang pelaksanaan Para Zedhe serta prosesnya yang berasal dari desa Lo’a. 3.7 Tehnik Analisis Data Seluruh data yang telah terkumpul dalam penelitian ini dianalsisis berdasarkan model analisis interaktif. Ada empat komponen yang dilakukan dengan model ini, yaitu pengumpulan data, reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Komponen ini saling berinteraksi dan membentuk suatu siklus analisa data penelitian sebagai berikut: a. Pengumpulan Data Data yang berhasil dikumpulkan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi dicatat dalam bentuk catatan lapangan berisi apa yang dikemukakan oleh informan serta catatan tentang tafsiran penelitian terhadap informasi yang diberikan oleh responden. b. Reduksi Data Reduksi data diperlukan karena banyaknya data dari masing-masing informan yang dianggap tidak relevan dengan fokus penelitian, sehingga perlu dibuang atau dikurangi. Reduksi data dilakukan dengan memilih hal-hal pokok yang sesuai dengan fokus penelitian, maka akan memberikan gambaran yang lebih tajam. c. Display Data Data yang sudah direduksi dapat disajikan dalam bentuk tabel atau gambar, tulisan yang telah tersusun secara sistematis agar data bisa dikuasai dan dipahami selanjutnya lebih mudah untuk menarik kesimpulan. d. Menarik Kesimpulan Penarikan kesimpulan atau verifikasi sudah dilakukan sejak awal penelitian berlangsung. Bahwa setiap perolehan data dianalisis dan disimpulkan walaupun agak kabur maknanya, tetapi akan semakin jelas dan semakin banyak data yang diperoleh dan mendukung verifikasi. LAPORAN HASIL PENELITIAN 1. ASAL-USUL PENDUDUK DESA LO’A Berdasarkan tinjauan historis keberadaan penduduk desa Lo’a tidak terpisah dari masyarakat Ngada pada umumnya dan masyarakat So’a lainnya. Dari penelusuran tempat tinggal pada saaat manusia masih nomaden oleh beberapa orang tua ternyata ada 32 titik yang menjadi tempat persinggahan penduduk Lo’a. semua tempat itu ada yang meninggalkan bekas kampung atau nama yang khas dengan Kampung Lo’a atau nama orang Lo’a, tetapi ada juga yang sudah tidak meninggalkan apa-apa lagi karena mungkin dimakan usia ataupun kerena tempat persinggahan yang ditempati itu tidak terlalu lama. Dari para tetua dikisahkan bahwa sesungguhnya perjalanan penduduk dan waktu yang dilakukan pada jaman dahulu adalah sama, di mana pada waktu itu perjalanan penduduk awal mulai dari Cina selatan dan bergerak ke zawa one (Pulau Jawa), setelah tinggal beberapa saat dan persedian makanan yang mulai menipis sebagian penduduk akhirnya terpisah sebagian melakukan perjalanan ke timur dan sebagian lagi tetap tinggal di pulau Jawa. Yang berpindah ini kemudian menempuh perjalanan lewat laut selatan dan tibalah mereka di wae sae (Aimere) dan menambatkan perahu mereka di Tiwu Sina (kali lokoboko sekarang). Di Aimere ada penduduk yang bergerak ke timur dan ke barat. Penduduk yang bergerak ke barat menuju daerah Lopijo yang mana di dalam rombongan itu termasuk penduduk So’a dan Lo’a khususnya. Setelah beberapa lama tinggal di Lopijo penduduk yang saat itu masih nomad akhirnya bergerak lagi menuju ke timur yaitu di daerah gunung Inelika (Wilayah kecamatan Bajawa Utara sekarang), ini di buktikan dengan beberapa nama tempat di gunung tersebut yang sampai saat ini masih ada misalnya Mala Piga (nama salah satu desa di kecamatan So’a) mungkin karena bencana alam atau faktor yang lain penduduk So’a awal akhirnya berpindah lagi menuju Masu. Di Masu inilah kemudian penduduk So’a yang pada waktu itu berjumlah 12 orang kepala keluarga berpisah. Keduabelas kepala keluarga itu terdiri dari Masu Gholo, Piga Gholo , Menge Gholo, Ruda Gholo, Nio Gholo, Mari Gholo, Seso Gholo, Lo’a Gholo, Libu Gholo,Wuli Gholo, dan Lade Gholo. Kedubelas bersaudara inilah yang kemudian beranak cucu dan mendirikan kampung mereka masing-masing seperti yang ada di kecamatan So’a sekarang ini. Setiap kampung mempunyai Ngadu mereka masing-masing sebagai tanda bahwa mereka adalah pemilik yang sah atas kampung tersebut. Penduduk Lo’a dengan kepala sukunya Lo’a Gholo berpindah ke arah tenggara yaitu di daerah Tura Lo’a yaitu tempat yang sekarang berada di wilayah Kecamatan Wolomeze, sedangkan keturunan So’a yang lainnya tetap menetap di Masu dan sekitarnya. Perpidahan penduduk Lo’a ke arah Tura Lo’a juga tidak berlangsung lama karena mereka harus berperang (Bu’u) dengan penduduk setempat yang telah duluan datang. Itulah sebabnya tempat itu kemudian diberi nama Tura(Perjanjian) Lo’a, karena pada waktu itu orang-orang Lo’a berjanji akan berpindah ke tempat lain dengan aman dan tidak mau dengan cara kekerasan. Setelah terjadi pejanjian itu penduduk Lo’a bergerak terus menuju arah timur yaitu di Watudoa (daerah Mbay sekarang) dari Watudoa mereka berpindah ke Dhoaboa terus berpindah ke Ola Lo’a, berpindah terus ke arah selatan di Tangihebu dan sampailah mereka ke Malawawo (daerah yang kemudian menjadi wilayah yang diklaim oleh orang Golewa dan Lo’a yang pada akhirnya direbut kembali oleh orang Lo’a pada tahun 1999) karena terdapat bukti berupa Watu Lewa peninggalan leluhur orang Lo’a. Dari Malawawo penduduk Lo’a bergerak menuju timur yaitu di Onebulu (daerah persawahan wilayah desa Lo’a sekarang). Dari Onebulu penduduk yang sudah semakin banyak itu berpisah di mana kedua suku besar mereka yaitu Lo’a Bogoboa dan Lo’a Nageseri berpisah. Lo’a Nageseri menuju Lo’aolo, sedangkan Lo’a Bogoboa tinggal di Nunudhali sampai keduanya baru bergabung kembali setelah lama berpisah. Lo’a Nageseri tinggal di Lo’a olo cukup lama dan mulai berpindah kembali ke kampung Loa yang sekarang ini. Lo’a Nageseri dan Lo’aolo mulai membentuk kampung baru lagi seperti pada tempat yang sekarang ditempati. Lo’a Bogoboa menempati wilayah selatan dan Lo’a Nageseri menempati wilayah utara yang berada dalam satu wilayah seperti yang sekarang ini dengan struktur kampung yang timur barat. Dari kedua kampung ini mempunyai adat yang sama dan juga mempunyai Ngadu masing-masing yang berdiri di tengah kampung mereka. Dari keseluruhan masyarakat adat desa Lo’a mempunyai 12 anak suku. Sampai saat ini mereka hidup berdampingan dengan aman dan mempunyai satu semboyan hidup yaitu: “Lo’a Ulu Watu De Maku, Pitu no’o Para Pitu Bhogo Bitu, Te No’o Legu Le Bhogo Bele” . artinya secara harafiah adalah orag Lo’a yang keras kepala, biar dipukul tidak meneyerah dan diinjak tak akan lari. Ini melambangkan keberanian dan keperkasaan untuk melakukan pekerjaan tanpa mengenal lelah dengan tidak memperdulikan keadaan alam atau struktur tanah yang tidak mendukung, mereka akan tetap bekerja sampai benar-benar memperoleh hasil dari lahan mereka sendiri. 2. GAMBARAN UMUM DESA LO’A Keadaan Geografis Geografis adalah salah satu aspek yang penting dalam mengetahui keadaan suatu daerah. Faktor tersebut sangat penting untuk mengetahui unsur-unsur lain bagi kehidupan masyarakat secara menyeluruh. Untuk itu keadaan geografis desa Lo’a dilihat dari perbatasannya dapat diketahui sebagai berikut: Utara : Desa Piga bagian timur, Desa Masu bagian barat Selatan : Desa Sangadeto bagian timur (Kecamatan Golewa) Timur : Desa Mengeruda dan kecamatan Boawae( Kab. Nagekeo) Barat : Desa Tarawaja Masyarakat desa Lo’a merupakan masyarakat agraris dengan topografis sebagian besar datar dan sedikit berbukit-bukit serta berada pada ketinggian 400-500 m dari permukaan laut. Keadaan ini yang mendukung masyarakat desa Lo’a lebih banyak mengusahakan dan bergantung hidupnya pada sawah dan ladang. Dengan curah hujan berkisar antara 8,60 ml/tahun dari bulan Desember - Maret. Sawah semuanya dapat diairi dengan baik pada musim hujan dan musim kemarau sehingga masyarakat pada umumnya dapat mengerjakan satu sawahnya dua sampai tiga kali dalam setahun. Untuk mencapai pusat desa Lo’a dilakukan melalui jalan darat yang menghubungkan ibukota kecamatan dengan pusat desa dengan jarak ± 3 km, kondisi jalan aspal, sedangkan untuk menghubungkan dengan ibukota kabupaten dengan jalan darat pula dan jaraknya adalah 18 km. Di desa Lo’a ladang dimanfaatkan untuk menanam jagung, ubi-ubian, jewawut, kastela dan padi, tetapi pada dekade terakhir ini orang sudah menanam ladangnya dengan tanaman umur panjang seperti: mahoni, jati putih, jati emas, serta tanaman perkebunan seperti: kemiri, cokelat, kopi, jambu biji dan lain-lain. Luas Wilayah Dari data yang ada di kantor desa Lo’a menunjukan bahwa luas wilayah desa Lo’a ± 3.126 Ha, luas wilayah pemukiman ±100 Ha, luas wilayah pertanian ± 1.755 Ha, luas lahan kosong ± 718 Ha, luas hutan ± 53 Ha dan luas lahan perkebunan ± 500 Ha. Penduduk Berdasarkan data terakhir pada bulan Juli 2010 menunjukan bahwa penduduk desa Lo’a berjumlah 1.367 jiwa, dengan komposisi sebagai berikut: Kepala Keluarga : 292 KK Perampuan : 694 orang Laki-Laki : 673 orang Sedangkan komposisi penduduk desa Lo’a menurut pekerjaan adalah sebagai berikut: yang berprofesi sebagai petani berjumlah 837 orang, PNS berjumlah 17 orang, pengusaha 7 orang dan yang berprofesi sebagai tukang berjumlah 5 orang. Kesehatan Kesehatan merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Kesehatan masyarakat yang baik akan sangat meningkatkan kesejahteraan kehidupan masyarakat ersebut. Kebutuhan akan kesehatan dalam masyarakat desa Lo’a sangat signifikan di mana pemerintah telah berupaya dalam menyikapi hal ini dengan dengan membangun sebuah poliklinik desa dengan tenaga medis satu orang. Data yang ada juga menunjukan bahwa jumlah fertilitas(kelahiran) penduduk desa Lo’a adalah 26 orang di tahun 2009 dan jumlah mortalitas(kematian) 5 orang juga pada tahun yang sama. Sebulan sekali anak-anak balita mendapatkan pelayanan Posyandu di Polindes dengan beberapa tenaga medis yang didatangkan dari pusat kecamatan. Masyarakat ada umumnya sudah memiliki kesadaran akan pentingnya kesehatan di mana di setiap rumah sudah memiliki closed pribadi dan tidak membiarkan hewan ternak seperti babi dan ayam sudah di kandangkan. Kebutuhan akan air bersih juga sudah direalisasi oleh pemerintah setempat sejak tahun 1996 dan sampai saat ini sudah hamper semuannya dimiliki oleh setiap rumah tangga. 3. AGAMA DAN SISTEM KEPERCAYAAN Seluruh masyarakat desa Lo’a beragama Katolik. Meskipun demikian mereka tetap mempraktekan dan menghayati kepercayaan asli. Kepercayaan asli meliputi kepercayaan pada wujud tertinggi, roh nenek moyang dan mahluk halus. a. Percaya pada wujud tertinggi Dalam sejarah hidup manusia selalu mempunyai pengalaman atau situasi yang dapat menghantarnya pada kesadaran untuk menghayati kehidupan ini baik kehidupan jasmaniah maupun kehidupan rohaniah. Dalam lingkup sosial budaya masyarakat desa Lo’a wujud tertinggi disebut dengan nama ema dewa. Ema adalah bapak yang selalu memberikan sesuatu, yang penuh kasih sayang dan yang selalu menjadi sandaran manusia di dalam hidupnya. Dewa adalah wujud tertinggi sebagai penguasa manusia dan alam semesta. Allah disebut dengan berbagai nama yaitu Dewa Zeta, Tua dewa, mori Dewa dan Ema Mori Bhu. Dewa zeta dipahami sebagi Tuhan yang menjadi penguasa langit dan keberadaanya adalah sebuah misteri yang tidak kelihatan dan diyakini akan mendatangkan kebaikan kalau manusia berbuat baik dan akan mendatangkan malapetaka kalau menusia tidak setia kepada-Nya. Karena itu masyarakat selalu percaya bahwa segala sesuatu yang berikan akan kembali kepada-Nya. b. Percaya pada leluhur Pemujaan terhadap leluhur menjadi salah satu bagian penting dari kegiatan suku-suku atau menjadi identitas suku-suku. Masyarakat desa Lo’a yakin akan campur tangan leluhur ”Ata mata dhanga ghila” atas kehidupan manusia. Para leluhur (orang mati) tetap hidup dalam wujud roh (Mae wa tana). Semua yang telah meninggal di jemput oleh leluhurnya ke tempat yang sama. Contoh konkrit yang biasa dilakukan adalah ketika bekerja dari pagi hingga matahari yang sudah menjelang terbenam semua orang di sarankan untuk berhenti semua dari kegiatan kerja karena akan bergantian para leluhur yang akan menggarap lahan itu. Hal ini merupakan suatu wujud kepercayaan yang menyatakan bahwa para leluhur akan datang mengunjungi manusia yang hidup pada malam hari dan melihat hasil kerja manusia tersebut. Masyarakat So’a dan Lo’a khususnya percaya bahwa setelah kematian akan ada kehidupan lain lagi yang abadi. Keyakinan ini bahkan sudah terlebih dahulu ada sebelum datangnya agama baru yaitu agama katolik. Pemujaan leluhur dibuat dengan memberikan sesajian pada saat-saat tertentu ”ti’i ka no’o wae/ ate na’a ebu”. Pemberian makan kepada leluhur dengan maksud untuk menghadirkan mereka dalam setiap kegiatan dan senatiasa menjaga agar jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan bersama atau dalam bahasa adat yakni “Ti’I to page penga”. Banyak sekali uapacara-upacara yang dilakukan untuk menjaga keharmonisan hubungan ini. Pemberian makanan kepada leluhur dapat dilakukan ditempat-tenpat seperti: di dalam rumah, di tugu batu, di depan rumah ataupun di kuburan serta di tempat yang dianggap sebagai penghuni roh leluhur. Makanan dan minuman bisa tergantung pada makanan semasa hidup atau makanan yang di anggap khusus dan paling disukai seperti, hati ayam, hati babi, atau berupa daging isi serta minuman berupa moke/tuak dan sirih atau pinang. Ini dilakukan dengan keyakinan bahwa orang mati tetap membutuhkan perhatian dan penghormatan dari manusia yang masih hidup. Hidup di dunia hanya sementara, dan kelak semua anggota keluarga akan bersatu kembali dalam suasana yang baru. c. Percaya pada mahluk halus Masyarakat desa Lo’a percaya akan adanya mahluk halus atau roh halus yang mendiami waktu dan ruang tertentu. Manusia ataupun hewan dilarang melintasi tempat itu pada waktu tertentu, karena makhluk atau roh halus akan mendatangkan kemalangan padanya. Mahluk atau roh halus tersebut disebut dengan nama Nitu. Identitas nitu dikenal mempunyai warna dan ukuran tetentu. Nitu mendiami bagian-bagian tertentu baik di rumah maupun di alam bebas. Di rumah nitu diyakini mendiami lubang dan tangga rumah juga di atap rumah. Di alam bebas nitu dipercaya mendiami pohon besar sungai, mata air, batu besar atau puncak bukit. Tempat-tempat itu dianggap angker dan pemali. Pada tempat-tempat ini dipercayai nitu berupa wujud binatang raksasa misalnya kucing yang ukurannya seperti kuda atau seorang nenek yang sedang duduk mengenakan pakaian putih tanpa memperlihatkan wajahnya ataupun juga terdengar bunyi gong dan gendang ada malam-malam tertentu dengan suara orang yang banyak. 4. Pendidikan Pendidikan merupakan faktor penting dalam meningkatkan sumber daya manusia, dalam mengangkat derajat status sosial maupun keadaan ekonomi seseorang dalam masyarakat. Manusia merupakan mahluk berakal budi, yang menggunakan akalnya untuk meningkatkan pengetahuan dengan cara belajar. Kebutuhan akan pendidikan yang semakin hari semakin meningkat mengingatkan kepada pemerintah agar cepat tanggap terhadap situasi ini mengingat manusia adalah penghasil kebudayaan. Dengan kata lain kebudayaan adalah ekspresi dari pengatahuan dan pola pikir manusia. Pengetahuan yang diperoleh manusia sebagai sebuah bentuk kebudayaan digunakan untuk menginterpretasikan pengalamanya dan menghasilkan tingkah laku atau tindakan tertentu. Pada umumnya masyarakat desa Lo’a sudah mengenal dunia pendidikan. Hal ini dapat di tinjau dari tingginya kesadaran orang tua untuk menyekolahkan anaknya. Untuk mendukung perkembangan pendidikan ke arah yang lebih baik, masyarakat desa Lo’a dilengkapi dengan beberapa sarana dan prasarana pendidikan antara lain satu buah gedung taman kanak-kanak (TKK) dan satu buah gedung Sekolah Dasar (SD dan telah dilengkapi dengan staf pengajar yang cukup memadai. 5. Ekonomi Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat desa Lo’a bekerja sebagai petani 98%, sisanya PNS, pengusaha dan tukang 2%. Masyarakat desa Lo’a sebagian besar adalah petani tradisional jumlah lahan pertanian: 1.755 Ha dengan hasil unggulannya adalah beras. Desa Lo’a memiliki dua bendungan utama yang di pergunakan untuk mengairi sawah mereka yaitu bendungan Wira Se dan Bulu. Potensi unggulannya yang lain adalah mete yang ditanam dalam jumlah yang besar di daerah Malawawo yang saat ini sudah mereka nikmati hasilnya. Potensi ekonomi penduduk desa Lo,a cukup menjanjikan bukan saja dari hasil pertanian seperti beras yang harganya mulai meningkat saat ini, tetapi juga dari hasil perkebunan lain seperti biji mete, kemiri, coklat dan lain sebagainya. Penghasilan lain juga di dapat dari beternak. Hewan yang diternak antara lain hewan unggas seperti ayam dan bebek ada juga hewan besar seperti babi, anjing, sapi, kuda, kerbau dan kambing. Secara ekonomi kehidupan masyarakat sudah cukup baik karena pemenuhan kebutuhan kesehariannya sudah dapat terpenuhi masing-masing keluarga tanpa harus bergantung pada orang lain. Pertumbuhan ekonomi desa rata-rata setiap tahun per KK adalah sebagai berikut penghasilan per-kepala keluarga Rp. 10.000/hari x 30 hari x 1 bln= Rp. 3. 600.000. Pertumbuhan desa dalam sketsa tahunan adalah 262 KK x Rp. 3. 600.000.= 943..200.000 pertahun setelah dikurangi 10% dari KK yang ada. Penduduk desa hanya sebagian kecil saja bahkan hanya di bawah 1% saja yang keluar daerah untuk mencari pengasilan di daerah lain. Hal ini dibuktikan dengan data yang ada yaitu dari 1.367 jiwa penduduk yang ada hanya 13 orang saja yang dinyatakan keluar daerah untuk mencari nafkah di tahun 2009. Sedangkan sebagian besarnya mendiami desa mereka sendiri untuk mengolah lahan mereka masing-masing. 6. Stratifikasi sosial Dalam masyarakat Ngada ada suatu sistem stratifikasi sosial yang terdiri dari tiga lapisan dasar. Pelapisan itu adalah keturunan dari klan-klan yang dianggap mempunyai sifat keaslian. Tiga lapisan masyarakat di Ngada terdiri atas Ga’e meze/ Ga’e wawo, Ga’e kisa dan Azi Ana/ Ga’e Au atau lapisan Ho’o/ Budak. Pelapisan sosial seperti ini pada jaman dahulu masih berlaku. Pada jaman dahulu masyarakat Lo’a mengenal tiga lapisan sosial yakni, Mosalaki, Rakyat biasa dan Ho’o. Para mosalaki dijuluki bagi orang-orang terpandang dalam masyarakat. Sedangkan ho’o terhitung sebagai harta benda dari orang yang terpandang di masyarakat itu sendiri. Ada predikat yang diberikan pada orang yag di kenal mosa misalnya golongan tuan tanah disebut Mosa tana. Golongan yang mempunyai kekayaan disebut mosa Ngai dan mosa yang pandai berbicara serta mengambil keputusan-keputusan yang bijaksana di sebut mosa Mazi dan mosa yang dikelompokan dalam tetua adat yang disebut Mosa Nua. Sedangkan kaum hamba biasanya bekerja untuk orang yang mempunyai kekayaan mereka dijuluki dengan nama “Ana De Zongo zere” karena merka tidak mempunyai apa-apa selain diri mereka sendiri sebagai pekerja untuk orang lain dengan upah makan saja. Ho’o juga bisa dijadikan sebagai barang yang bisa di tukar dengan barang lain seperti emas atau perak. Atau hewan besar lainnya ataupun dijadikan jaminan kalau tuannya kalah dalam perang atau judi. Dewasa ini pelapisan sosial seperti ini sudah pudar bahkan sudah tidak berlaku lagi, karena kemajuan zaman yang mendorong orang untuk berpikir positif terhadap orang lain. Tidak adanya pelapisan sosial ini, terutama disebabkan oleh pertimbangan dan penghargaan atas nilai moral dan martabat manusia, selain itu perasaan senasib di mana mereka harus berjuang untuk mempertahankan hidup dari segala ancaman yang datang merupakan juga salah satu pertimbangan untuk saling merapatkan barisan tanpa harus memilah-milah siapa yang terbesar dan siapa yang terkecil. Pada saat ini stratifikasi pada masyarakat desa Lo’a dapat dikatakan bersifat abstrak walaupun ada anggapan atau penilaian mereka ada golongan yang mempunyai status dan kedudukan tinggi. Sebaliknya ada golongan lain yang menganggap punya status dan kedudukan rendah. Dasar atau kriteria yang menimbulkan anggapan itu adalah pendidikan, pekerjaan, jabatan yang di duduki dan sering pula bersama kekayaaan yang dimiliki atau di warisinya. Bersamaan dengan itu kaum wanita dianggap mempunyai status yang lebih rendah dari laki-laki sehingga mereka di beri predikat Ata fai ana, karena dianggap di nomorduakan dalam setiap kegiatan dan menganggap kaum wanita seperti anak-anak. 7. Sistem Perkawinan Perkawinan adalah merupakan sebuah bentuk dan nilai perjanjian antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang terjadi dalam suatu masyarakat yang memiliki aturan sosial. Aturan atau hukum tersebut dimaksudkan untuk menjaga dan mengontrol perilaku seksual masyarakat serta aturan lembaga perkawinan. Lembaga perkawinan adat masyarakat Lo’a sejak nenek moyang sudah menetapkan beberapa tahap perkawinan asli kedalam beberapa tahap yakni: Pertama: Idi weti/Bere tere oka pale: yakni lamaran pertunganan. Pada tahap ini orang tua laki-laki mengutus delegasi untuk melamar sekaligus menanyakan kepastian dari orang tua si gadis. Apabila lamaran di terima maka pihak laki-laki akan memberikan tanda (Ru’u) bahwa si gadis sudah punya tunangan. Syarat khusus bagi kedua calon yaitu bahwa yang dia pacari adalah pria atau wanita yang menurut garis keturunannya sudah berada pada lapis ke-empat yang bisa disebut sebagai “ana mame”. Ana mame adalah sebutan bagi seorang anak pemuda atau pemudi yang sudah memenuhi syarat yaitu telah sampai pada keturunan yang keempat yang sudah pantas diambil menjadi istri atau suami yang mana ini dilakukan agar bisa menjaga hubungan yang baik dalam ikatan keluarga, sehingga ikatan yang sebelumnya sudah terjalin lama itu dapat dimulai lagi setelah mereka berkeluarga. Di luar dari pada itu dianggap tidak sah dan akan dibatalkan. Kedua: Idi maki hede adalah tahp dimana keluarga calon lelaki mulani membawa seekor kuda atau sekor sapi kepada calon istrinya. Pada kesempatan ini mereka akan membicarakan berpa hwan yang harus dibayar oleh keluarga calon lelaki dan untuk apa dan siapa sajakah hewan yang akan dibayarkan nanti. Kalau dicapai kata sepakat, maka akan di tetapkan kapan keluarga lelaki akan membawakannya. Ketiga: Nalo hoga hama adalah suatu tahap dimana keluarga lelaki mulai memanggil semua anggota keluarga atau anggota suku untuk bisa mengetahui berapa yang harus di bayar dan semua mareka yang hadir akan menyepakati berapa berapa uang atau barang yang akan disumbangan atau menggantikan kembali barang yang telah diberikan kepada anggota suku ataupun keluarga sebelumnya seperti arisan yang biasa dilakukan. Keempat:Tu ngawu adalah tahap terahir yakni pembayaran belis kepada keluarga calon istrinya. Kalau hewan atau barang yang di berikan masih kurang, maka pihak lelaki harusbisa menyanggupinya untuk membayar lagi dikemudian hari. Setelah itu baru di sepakati kapan akad nikah akan dilakukan. 8. Kesenian dan Kerajinan Tangan Kesenian dalam masyarakat desa Lo’a tidak dapat dipisahkan dari ekspresi kesenian masyarakat Ngada pada umumnya, yaitu melalui tari-tarian yang diiringi gong dan gendang(Ja’i). Namun ada sedikit perbedaan dalam beberapa hal yaitu tarian adat Lo’a yang dipisahkan lagi atas beberapa jenis misalnya tarian dero untuk mengiringi tinju adat yang amat terkenal di So’a umumnya yang dilakukan dengan tidak menggunakan bunyi-bunyian dari gong atau gendang tetapi hanya melontarkan pantun-pantun saja sambil berpegangan tangan mengelilingi api ungun dengan gerakan tarian yang khas. Tarian lain yang juga cukup memukau adalah tarian Ja’I Laba Bua dan tarian Ja’i Laba Para dalam upacara Para Zedhe yang dilakukan dengan gerakan yang lebih cepat dan meriah. Kerajinan tangan yang terkenal ada masyarakat desa Lo’a sebenarnya sangat banyak sekali, namun sampai saat sekarang ini sudah sedikit sekali jumlah orang yang menguasainya. Ini dikarenakan kemajuan zaman di mana orang-orang lebih suka menggunakan barang-barang impor yang lebih praktis dan mudah didapat. Kerajinan tangan yang sampai saat ini masih dipertahankan misalnya anyam-anyaman dari daun pandan seperti bere (tas anyaman), sawu (bisa menampung padi atau jagung sekitar 20 kg), ripe(daya tampung 1-2 kg), te’e(tikar), sole (daya tampung 50kg), dan rume (anyaman yang berbentuk seperti ripe dan daya tampung padi atau beras sampai 1/2 ton), sedangkan anyaman yang lain yang terbuat dari kulit bambu yaitu kodo manu (sangkar ayam), k’pe (tempat sirih pinang yang juga bisa menyimpan barang lain seperti uang)dan sosa(perangkap ikan). Hasil kerajinan tangan yang lain lagi misalnya fego( sendok yang terbuat dari kayu, bambu atau tempurung kelapa), dll. Hasil Penelitian dan Pembahasan 1. Latar Belakang dan Motivasi Ritual Adat “Para Zedhe” Di Desa Lo’a Kecamatan So’a Kabupaten Ngada Sebelum kita mendalami prihal upacara Adat “Para Zedhe” serta segala segala nilai yang terkandung di dalamnya penulis perlu memperkenalkan terlebih dahulu tentang mitos yang melatarbelakangi seluruh rangkaian ritual adat Para Zedhe. Mitos tentang Bhada Bhu yang menceritakan tentang awal mula terciptanya Bhada(Kerbau) Bhu (tercipta) menurut masyarakat desa Lo’a yang dikisahkan oleh bapak Stanislaus Keo (73 thn) yang merupakan salah seorang anggota suku pemilik cerita ini adalah sebagai berikut: Konon pada jaman dahulu ketika orang-orang So’a masih hidup berpindah-pindah (nomaden) sampailah mereka pada suatu tempat dan menetaplah mereka di sana. Di daerah tersebut mereka hidup dan memulai berladang. Ketika itu ada seorang pemuda yang berani dan sangat rajin mengolah lahannya. Di kebunnya itulah segala jenis tanaman ia tanam sampailah pada suatu ketika tanamannya di ladangnya mulai menampakan hasil yang sangat baik tanpa ada yang rusak ataupun terserang hama penyakit. Ia tidak pernah sombong dengan semua hasil jerih payahnya selama ini. Maka mulailah hal yang aneh pada tanamannya itu, di mana ketika pagi hari ia pergi berladang ia hanya mendapatkan bekas pada tanaman yang siap panen itu. Semua isi dari tanamannya sudah dimakan dan tidak ada yang tersisa, begitu setiap harinya sampai pada hari ketiga ia mulai penasaran untuk mencari tahu siapakah yang sebenarnya telah menghabiskan semua tanaman yang ada di kebunnya. Setelah seperti biasanya setiap menjelang malam semua ternak sudah diikat pada tempatnya masing-masing ia berpura-pura kembali ke kampungnya yang cukup jauh dari kebunnya, tetapi di tengah jalan ia balik lagi dan menunggu di pondoknya. Tiba-tiba menjelang subuh ia mendengar seperti suara orang yang masuk ke kebunnya. Kemudian dengan mengendap-endap ia keluar dari pondoknya menuju tempat asal suara itu. Ternyata asal suara itu berasal dari pohon besar di sudut kebunnya di mana ada seekor naga besar yang bagian kepalanya sedang mencari makanan di kebunnya, sedangkan tubuhnya yang lain berada melilit di atas dahan pohon besar tersebut. Karena jengkelnya pemuda tersebut, maka di potonglah setengah tubuh naga tersebut dan memotongnya kecil-kecil, sedangkan yang di atas dahan di biarkannya begitu saja. Daging naga yang telah di mutilasinya kemudian di buang di lumpur dalam kebunnya. Setelah beberapa saat timbulah dalam daging yang ia buang dalam lumpur tersebut ulat-ulat yang jumlahnya sangat banyak dan semakin lama ulat tersebut mulai berubah. Keanehanpun mulai terjadi. Pertama, ulat-ulat tersebut mulai tumbuh tanduk pada kepalanya, kemudian kakinya mulai menampakan kuku yang keras dan tinggal hanya empat saja dari sekian banyak kai ulat itu, yang terakhir adalah ulat tersebut mulai muncul ekor pada bagian belakang tubuhnya dan akhirnya semua ulat tersebut menjadi kerbau yang jumlahnya sangat banyak. Akhirnya kerbau itupun tumbuh dan berkembang. Pemuda tersebut mulai mengembala kerbau-kerbau yang awalnya adalah ulat-ulat itu dan tidak lagi menggarap kebunnya. Setelah beberapa lama di tinggalkan akhirnya kebunnya di tumbuhi kula (labuh) yang memenuhi seluruh kebunnya itu. Pemuda itu pun tidak mengambilnya atau membersihkannnya lagi. Ia membiarkannya sampai pada suatu hari Kula itu menjadi tua dan ia mencoba untuk memetik salah satu dari labuh itu kemudian dengan tidak sengaja memecahkannya, tetapi apa yang temukan di dalam ternyata semuanya berisi padi dan emas. Akhirnya pemuda tersebut menjadi kaya raya dan sebagai penghormatannya terhadap Sang pemberi hidup itu, maka ia mengorbankan beberapa dari karbaunya untuk dijadikan syukuran dan membagikan dagingnya untuk dinikmati kepada semua warga kampungnya. Upacara ini terus diwariskan sampai pada saat ini. Motivasi dari upacara ini adalah bahwa orang yang melakukannya menginginkan agar segala sesuatu yang ia miliki dapat dirasakan bersama terutama bagi orang-orang yang berkekurangan. Selain itu ada juga motivasi yang lainnya yaitu Mori para menginginkan suatu saat ia meninggal nanti namanya dapat diingat oleh orang banyak dengan membunyikan suatu tanda berupa meriam bambu. Pada saat itu orang akan mengingatkannya bahwa ia telah melakukan sesuatu yang baik pada masa hidupnya dan tanda itu sebagai isyarat bahwa almarhum pada masa hidupnya telah memberikan sesuatu yang terbaik bagi orang lain sehingga ketika ia berangkat ke alam yang lain untuk bergabung dengan leluhurnya ia diiringi dengan bunyi-bunyian sebagai tanda kemenangannya dan kesuksesannya dalam melewati hidup di dunia. Pada akhirnya orang akan merasa bahwa memang almarhum itulah salah satu orang yang dermawan dan segala perbuatannya patut dikuti dan dipuji. Dengan ini secara tidak sadar statusnya sosialnya dalam masyarakat akan ditinggikan. 2. Proses Ritual Adat Adat “Para Zedhe” Di Desa Lo’a Kecamatan So’a Kabupaten Ngada. Proses ritual adat Para Zedhe di desa Lo’a di bagi atas beberapa tahap yang panjang dan membutuhkan waktu yang lama pula. Setiap tahap mempunyai upacara masing-masing dan semuanya harus dipatuhi oleh setiap peserta ritual adat Para Zedhe ini. Tahap-tahap yang harus dilalui dari ritul adat Para Zedhe adalah sebagai berikut: Pertama: Utu tiwo (kesepakatan bersama) Pada tahap ini warga suku berkumpul yang dimediasi para mosalaki pada woe (suku) tersebut. Simbol suku masyarakat desa Loa adalah Ngadhu. Pada Ngadhu terdapat dua bagian yaitu saka puu dan saka lobo. Sehubungan dengan yang mengerakan atau memediasi pada kegiatan awal ini adalah saka puu dan saka lobo untuk bermusyawah dengan warga suku bertempat di “Loka Tua Mata Api”. Loka tua mata api adalah tempat orang-orang tua berkumpul sambil minum tuak dari nira sambil membicarakan rencana-rencana besar yang harus dilaksanakan dalam kampung tersebut. Kegiatan ini dimusyawarakan sebelum acara Para Zedhe. Upacara Para Zedhe biasa dilaksanakan dengan tenggang waktu antara 5-10 tahun. Loka tua mata api lokasinya di kebun suku dengan pelatarannya watu lewa (Tugu batu/menhir) dan pondok yang terbuat dari bambu. Musyawarah mosalaki dan tua-tua adat hanya dilakukan sesekali saja. Lokasi Loka tua mata api dapat disimak pada gambar berikut ini. Loka tua mata api (dokumen pribadi) Loka tua mata api oleh masyarakat desa Loa menganggap sebagai tempat sakral sehingga jarang masyarakat desa Loa melewati tempat tersebut apalagi pada siang hari, sore hari dan malam hari. Menurut penuturan tua-tua adat bahwa loka tua mata api adalah kampungnya leluhur diyakini oleh masyarakat jika melewati lokasi loka tua mata api maka akan megalami gangguan. Hal ini juga akan terbawa dalam mimpi seperti dikejar binatang aneh dan melihat para arwah leluhur yang telah meninggal. Di desa Loa terdapat tiga lokasi Loka Tua Mata Api pada tempat inilah mosalaki, tua-tua adat dan warga suku bermusyawarah tentang kegiatan yang akan dilaksanakan oleh warga suku. Sebelum memulai bermusyawarah mosalaki memotong hewan korban sekcil-kecilnya ayam atau babi di depan watu lewa. Darah hewan korban direciki pada watu lewa dan tiang pondok rumah selanjutnya mosalaki mengajak warga suku utuk bermusawarah, sehubungan dengan kegiatan yang akan dilakukan. Sambil bermusyawarah ada sekelompok kaum pria memasak nasi bambu dan daging babi. Suasana musyawarah berlansung dengan penuh kekeluargaan dan keptusannya menjadi keputusan bersama dilanjutkan dengan makan bersama. Sebelum santap bersama mosalaki memberikan makan kepada leluhur dalam bahasa setempat dikenal dengan sebutan tii ebu artinya memberikan makan kepada leluhur bertempat di watu lewa. Mosalaki mengambil hati babi dan sejumput nasi dan tuak putih, sirih, pinang dan tembakau diletakan di hadapan watu lewa sambil menuturkan sebagai berikut:………………… Pemberian sesjian kepada nenek moyang yang dilakukan di hadapan watu lewa dengan maksud untuk menghadirkan arwah nenek moyang dalam setiap pembicaraan dan keputusan yang diambil serta membiarkan arwah leluhur tersebut mendengarkan pembicaraan mereka. Kesepakatan bersama mnjadi acuan dalam melaksanakan ritual Para Zedhe ini. Kedua: Tata Ngaza atau pendataan nama warga yang akan mengikuti Para Zedhe. Pendataan nama peserta Para Zedhe bukan hanya kaum lelaki tetapi juga kaum perempuan juga diikutisertakan. Orang-orang yang terdaftar adalah orang-orang yang merasa dirinya mampu secara ekonomi. Bagi kaum perempuan harus memenuhi syarat diantaranya janda yang suaminya minggalkan warisan untuk istri dan anak-anak juga sudah melewati upacara Dhodho atau Poze Ngi’I dan feka.b Sedangkan bagi kaum laki-laki ada tiga syarat utama yaitu jika ia adalah orang asli maka ia harus sudah melakukan upacara Sapu dan kalau ia berasal dari salah satu suku yang mengharuskan melewati upacara feka dan jika ia berasal dari luar daerah maka ia akan langsung diterima sebagai peserta Para. Pada tahap ini juga dibentuklah panitia panitia para zedhe. Mekanisme pemilihan kepanitiaan berdasarkan musyawarah mufakat. Ketiga: Woro Kazu/wela kazu. Pada tahap ini keluarga menyiapkan kayu bakar yang diambil dari kebun masing-masing selanjutnya di bawah kerumah serta pelengkapan lain seperti perkakas dapur, bumbu masak, kopi, gula rokok, tuak putih. Kegiatan ini melibatkan warga suku dan anggota keluarga. Keempat: Rego Longa; tahap ini semua padi dan jagung yang sudah dipersiapkan mulai diambil dari lumbung masing-masing. Rego longa adalah lumbung penyimpanan padi atau jagung yang terbuat dari bambu dua atau tiga ruas. Semua ana woe mulai megambil padi dan jagung dari lumbung untuk di tumbuk, dan dibersihkan oleh keluarga. Suasana gotong royong Nampak kelihatan dalam partisipasi warga suku untuk menyiapkan perlengkapan pesta para zedhe. Dituturkan oleh para tua-tua adat bahwa sambil menumbuk padi dan jagung para warga melantunkan nyanyian dan syair-syair yang memikat kaum ibu sebagai penghibur dan pelepas lelah. Namun dalam perkembangan dewasa ini dengan kemajuan imu dan teknologi bukan lagi lesung dan alung yanag dipergunakan untuk membersihkan padi dan jagung tetapi mesin giling. Selain padi dan jagung dipersiapkan oleh keluarga juga hewan korban kerbau. Kerbau sebagai hewan korban digaja dan dirawat serta diikat di depan atau samping rumah. Menurut penutura tua – tua adat bahwa kerbau sebagai hewan korban harus sehat dan tidak cacat. Kerbau yang memenuhi syarat pada ritual para zedhe adalah kerbau yang tanduknya 50 cm. Penuturan tua-tua adat pada jaman dahulu peserta para mengorbankan kerbau lebih dari satu ekor, hal ini karena kerbaua populasiya banyak namun pada zaman sekarang ini karena pertimbangan ekonomi, maka hanya boleh menyiapkan satu ekor untuk dijadikan kurban dari setiap peserta Para. Kelima: Ngango Wae (wela Po’o/ Ope Wae). Ngango wae artinya meninjau lokasi air yang bersih misalnya pada mata air sedangkan wela po’o/ ope wae artinya memotong bambu yang digunakan untuk mengisi air. Penuturan tua-tua adat pada zaman dahulu warga suku kususnya kaum lelaki mempunyai tugas untuk mengambil air pada mata air untuk persiapan pesta. Namun pada perkembangan dewasa ini dengan kemajuan pembangunan nasional maka hal seperti ini tidak dilakukan lagi, pada umumnya masyarakat desa Loa telah memiliki kran air didepan rumahnya sehingga tidak membutuhkan banyak tenaga. Keenam: Rati T’de. Rati artinya ikat dan T’de artinya pagar. Rati T’de artinya mengikat pagar. Rati T’de adalah aktivitas para warga suku untuk menyiapkan pagar yang kuat sebagai pelataran untuk pelaksanaan para zedhe. Sebaelum pagar dibuat di dahului dengan pemotongan hewan korban biasanya babi jantan yang ditanggung oleh peserta para. Babi hewan korban disembeli oleh mosalaki dan mosalaki menuturkan sebagai berikut ………….. Darah hewan korban direciki pada ngadhu dan bambu kaki pagar. Darah hewan korban sebagai symbol kekuatan agar penyelenggaraan para zedhe berjlan dengan baik dan lancar. Pagar yang dibuat mengelilingi ngadhu bentuknya segi empat. Dapat disimak pada gambar berikut ini…….. Para warga suku khusunya laki-laki secara bergotong royong membuat pagar. Waktu yang dipergunakan untuk mengikat pagar ini bisa mencapai 2-3 hari bahanya berupa Bambu yang di potong dari loka atau daerah sekitar kampung. Bambu digunakan sebagai kaki pagar juga diikat secara vertikal, hal ini dengan maksud jika hewan korban kerbau ditombak kerbau akan lari keliling dan tidak keluar pagar yang akan membahayakan masyarakat yang menyaksikan atraksi tersebut. Persyaratan minimal bambu yang diikat atas bawah (Vertikal) adalah lima batang bambu bulat. Sedangkan jarak lubang untuk bambu yang ditanam dengan bambu yang lainnya (horizontal) adalah 25-30 cm. pagar di buat sekuat mungkin dan di ikat dengan tali ijuk secara ketat. Ketujuh: Pote fare (pemintalan tali). Pemintalan tali didahului pemotongan hewan korban. Hewan korban yang disembeli adalah ayam jantan putih didepan ture yang lokasinya pada loka tua mata api. Tua adat menyampaikan permohonan kepada leluhur agar pemintalan tali berjalan dengan baik. Darah hewan korban direciki pada ture dan tali ijak dan bulu ayam. Pekerjaan ini dilakukan oleh warga suku. Dalam upacara ini semua ana woe dan ana weta akan membawa ayam yang warna bulunya putih untuk di potong dan diambil bulunya untuk di pintal bersama dengan tali yang bahan bakunya dari ijuk yang didapatkan dari pohon nira yang terdapat di sekitar loka tua mata api. Upacara pemintalan ini membutuhkan ijuk yang banyak dan orang yang banyak pula. kaum wanita dilarang melintasi tempat di mana orang mebuat tali ini. Selain ayam putih juga beras merah dan babi untuk disembeli dan dimakan bersama setelah pemintalan selesai. Pemintalan dilakukan secara teliti dan diikat kuat. Tali ini digunakan untuk mengikat kerbau pada waktu ditarik di tengah kampong, hal Ini menjaga agar jangan sampai timbul hal yang bisa membahayakan nyawa orang kalau saja tali ini terlepas atau putus. Setelah pemintalan tali selesai tali dibawa ke kampung yang diiringi bunyi gong gendang dan tariansepanjang jalan. Semua sisa bahan baku harus diangkut semuanya tanpa ada yang tersisa. Kedelapan: Tewi manu: yaitu terjadi pada sehari sebelum para dilaksanakan . dalam kegiatan ini sanak asadara dan handai taulan membawah ayam untuk para pelaku Para Zedhe. Pada kesempatan yang sama juga akan dilangsungkan ritual dari ra’a manu dan basa logo; yang mana ayam yang sudah di potong akan diambil darahnya kemudian diberikan kepada peserta para agar mereka membasahi tangan dengan darah ayam tersebut sebagai tanda bahwa mereka telah resmi menjadi peserta Para. Kesembilan: Kobe Lo Rae: upacara ini terjadi pada malam sebelum para yang mana upacara ini dimaksudkan untuk menjaga kerbau-kerbau yang akan dibantai keesokan harinya. Biasanya yang menjaga adalah orang-orang yang merupakan kerabat dekat dari pemilik kerbau/ peserta para dan bukan dari istri atau anak-anak dari orang yang membuat acara tersebut. Dituturkan oleh taua-tua adat bahwa akan terjadi sesuatu yang aneh pada kerbau tersebut. misalnay kerbau akan mengeluarkan air mata seperti orang yang sedang menangis. Acara ini dimaksudkan untuk menjaga agar kerbau yag akan dijaiakan hewan korban di masuki rih jahat. Dan kalau ini sampai terjadi, maka harus segera memanggil orang pintar (mori mali/dukun) untuk melakukan pemulihan. Semua orang yang menjaga harus tidak boleh tidur dengan membuat membuat api unggun di depan kerbau sambil melantunkan pantun-pantun yang berisikan keberanian atau syair yang menghina hewan ini. Lantunan syair-syair dapat disimak berikut ini: lo rae : “e… oa, , tolo kau ra’a mara bisa bara dia kisa nata e…”! “e… oa, tolo kau” Syair di atas adalah sebuah syair olokan bagi kerbau karena darah kerbau yang akan menyirami seluruh kampung keesokan harinya adalah sebuah berkah dan rejeki bagi pemiliknya. Darahnya yang segar itu adalah petanda bahwa kerbau adalah pahlawan besar yang merelakan dirinya untuk menjadi kurban dari upacara ini. Pada amalam aharinya penjaga kerbau menghiasi badan kerbau dengan tulisan atau pernak-pernik yang banyak. Tulisan pada badan kerbau biasanya menunjukan identitas nama suku atau nama orang dari pemilik kerbau yaitu peserta para. Di samping itu mereka juga harus merotan badan kerbau atau menyiksanya dengan duri daun pandan agar kelihatan lebih berani dan jantan serta tidak takut pada orang-orang yang banyak. Kerbau yang sudah di persiapkan ini biasanya sudah diikat pada pohon atau bambu yang ditanam rapat pada lehernya seperti di paron. Kesepuluh: Leza Para. upacara ini dilakukan pagi hari menjelang Para yang dibagi dua bagian yaitu(1) Bua laba: adalah upacara tarian Zai laba bua yang unik yaitu dengan diiringi bunyi gendang dan rogo (kentongan). Semua peserta Para sudah berpakaian adat lengkap dengan semua pernak-perniknya. Dalam tarian ini gerakan yang dilakukan oleh peserta Para Zedhe lebih cepat dan lebih meriah. Dilanjutkan dengan Ka saka P’te: setelah berlangsungnya upacara laba bua, maka tahap berikutnya adalah ka saka p’te, di mana pada upacara ini semua peserta Para Zedhe melakukan upacara perjamuan makan bersama. Semua peserta upacara dibagi atas tiga kelompok untuk makan dengan mengelilingi Ngadu yang terdiri atas tiga bagian yakni ngadu paling ujung Timur , Tengah dan Barat yang masing-masing diberi nama: Ngadu ene (mama) di timur, Ngadu ema (bapak) di tengah yang ukurannya paling besar dan Ngadu ana (anak) di bagian Barat. Ritual perjamuan bersama ini adalah mengundang para leluhur agar senantiasa hadir menemani semua peserta para dalam kegiatan selanjutnya yang sangat di nantikan yaitu Para Zedhe. Sebelum semua peserta para makan yang terlebih dahulu dilakukan adalah memberi makan nenek moyang di masing-masing Ngadu tersebut dengan mengucapkan doa-doa sebagai berikut………………………… Kesebelas: Para Zedhe. Para Zedhe adalah puncak ucapara dengan tahap-tahap sebagai berikut: Wi Fare Bhada, Sa Ngaza dan Sa Bhea:. Ketiga bagian di atas dilakukan secara berurutan dari setiap pelaku para zedhe. Wi Fare Bhada adalah upacara menarik tali kerbau dari rumah pemilik menuju tempat upacara. Penarikan tali kerbau dilakukan oleh kerabat keluarga yang dekat dan kerabat yang jauh. Kerabat yang dekat memegang tali kerbau yang dekata dengan mulut kerbau dan kerabat yang jauh memegang tali kerbau bagian ujung. Urutan pembantai kerbau secara berurutan dimulai dari saka puu, saka lobo, lado, taka (taka watu), toa, wela, radhi, laba yang berjumlah 12 orang dan yang terakhir adalah masyarakat biasa. Saka pu’u adalah orang yang sejak leluhurnya menduduki tempat di bagian pangkal Ngadu, begitu juga dengan saka lobo adalah orang yang menempati ujung gadhu. Setelah kerbau korban sudah masuk dalam pelataran ritual diringi dengan gong gendang selanjutnya tali kerbau adiikat pada Ngadu. Selanjutnya pemilik kerbau korban melakukan sa (sapaan) yang dalam bahasa Soa dikenal dengan Sa Ngaza sebagai berikut: “O… Adhi de ga’e……! Ga’e lau mala, lau mala Adhi wi siba na’a dia kisa nata.” Artinya adalah pelaku para adalah orang besar dalam kampung ia sudah membuktikan kebesarannya dengan membawa kerbau yang ada diladang ke tengah kampung sebagai kurban untuk leluhur dan dewa zeta. Setelah sa ngaza selesai dilanjutkan dengan Sa Bhea artinya menuturkan keturunan. Yang dituturkan hanya dari keturunan pihak ibu sampai pada lapis keempat yaitu dimulai dari Ughe, Ura, Suli dan Ma yang kesemuanya hanya dari pihak ibu (perempuan) saja. Ughe adalah ibu dari orang yang melakukan Para Zedhe, Ura adalah nenek dari pembuat acara Para Zedhe, Suli merupakan ibu dari Ura atau nenek dari ibu (Ughe) pembuat acara Para Zedhe dan Ma adalah ibu dari Suli di atas. Jika pembuat para zedhe dalam sa (sapaan) melupakan atau tidak menyebutkan keturunan yang sebenarnya maka sa (sapaan) dilakukan atau diulangi lagi sesuai dengan keturunannya. Sanak saudara yang disebutkan namanya dalam upacara ini, mereka akan merasa bangga dan penghargaan karena mereka akan dikenal oleh masyarakat, hal ini menyangkut dengan status dan kedudukan mereka dalam masyarakat. Rasa bangga dan penghargaan yang diberikan sanak saudara yang disebutkan namanya merasa berutang budi, dan menyerahkan kuda, sapi, ayam, tuak, anggur kepada pembuat acara Para Zedhe. Sebagai balasan pembuat acara para zedhe memberikan daging kerbau atau daging babi. Penuturan tua-tua adat dalam Sa Bhea untuk keturunan Ughe sebagai berikut: Ana keo, Anakeo, Ana keo. Yo Sa. Laba…(gong gendang di bunyikan diiringi dengan tarian laba para). Setelah tarian selesai dilanjutkan dengan Ka’e Za’o Adhi o…………Ana Keo, Za’o Bai, O... Ana Keo.Keo hoga Lo’a, Hoga Sengi. Hoga Sengi, Sengi mama teme, Nika dhano wei Mama, Uta Dhano wei Mama. Artinya kami berasal dari suku Senggi uklet bekerja kebun dan memelihara hewan. Ungkapan diatas mengidikasikan bahwa suku sengi adalah suku yang ulet untuk membawah nama suku agar tetap dikenang maka warga suku harus rajin bekerja diladang dan memelihara ternak yang banyak untuk menghidupi anak cucu. Laba…………(gong gendang di bunyikan lagi diiringi dengan tarian laba para). Lebih lanjut Sa Bhea untuk Ma (keturunan ibu) sebagai berkut: Ma ……Sasa…… Sasa wolo lewa, de nga no’o bata zili……… De fiki na’a dhiri, lina pia kisa, bule hajo tau nenu ngia. Zele Nango Lado, Nango no’o Soa Lado Napa de woso kappa, pe’e baga wei moe bhada Laba……… Artinya keturunan dari Nango lado dan Soa Lado tidak boleh mengambil istri dari keturunan yang membuat apara, tetapi harus sebaliknya dilanjutkan dengan penyerahan warisan seperti tanah kepada anak-anaknya bertempat di tengah kampung disaksikan oleh warga suku dan masyarakat. Tanah yang dibagikan adalah tanah milik orang tuanya sedangkan tanah milik suku, tanah yang masih sengketa dan tanah sakral seperti loka tua dan loka tua mata api menjadi milik suku dan tidak dibagikan kepada anak-anak. Biasanya batas tanah yang diberikan secara adat ini hanya berupa batas alam seperti kali, pohon besar, batu ataupun tanda-tanda lainnya yang bisa bertahan lama. Tidak seperti saat ini yang sudah menggunakan pilar. Pembagian tanah oleh orang tua atau orang yang melakukan acara ini sudah dipertimbangkan secara matang. Anak lelakinya sebagai ahli waris, yang dijuluki sebagai Mosa Uma karena merekalah yang berhak atau berkuasa atas tanah yang diwariskan. Setiap anaknya harus menaati semua warisan yang sudah dibagikan ini dan mengerjakan lahan yang sudah dibagikan ini tanpa ada rasa iri hati diantara mereaka kalau ada saudara lainnya yang mendapatkan lahan lebih besar. Pemberian warisan tanah dialakauan sa Ngasa oleh orang tuanya sebagai beriut: Ana Za’o Fra Mosa uma, mosa zili tde zie Riwu Nga dheke zaza Zala,Wole Mama Moe Eko Zara Su’u Sa’a Su’u Sa’a, Ulu Nenga laza-Laza, wi Ngata Wei Zara, Logo Zara No Bhaka Laba……… Artinya bahwa warisan yang diberikan kepada anak Frans yang berlokasi di T’de Zie (nama tempat/kebun). Bekerjalah dengan rajin dan ulet dikebun itu, bulir padi berisi dan panjang seperti ekor kuda, jika ada warga yang lewat akan mengagumi saudarah. Panenan berlimpah diangkut dengan kuda dan kudanya pun sampai terluka karena beban yang di pikul terlalu berat. Selain anak laki-laki juga anak perempuanpun akan dialakukan Sa Ngaza yang dijuluki Mosa Ngesu Karena pada sistem patrilinel perempuan tidak mendapatakan warisan, maka Sa Ngaza yang diberikan tidak berupa harta warisan tetapi berupa pujian atas kerja yang ia lakukan. Mosa Ngesu menandakan bahwa ia (anak gadisnya) berkuasa dan mempunyai kewajiban di dalam mengatur rumah tangga, masak mengurus suami dan anak-anak dan mengabdi seutuhnya pada suami. Lebih dari itu haknya sebagai perempuan dan kelihaiannya dalam mengatur rumah harus diakui oleh saudara-saudara mereka. Sa Bhea yang di berikan kepada anak gadis oleh pelaku Para Zedhe: Ana Za’o Tri, Mosa Ngesu Gazo Wazu, Gazo Wazu Sai Dhu Lei Maru. Tebhi Sea, Tebhi Sea Sai Dhu Lei Gea Arti dari Sa di atas adalah pembuat acara Para Zedhe mengagungkan anaknya yang bernama Tris. Ia bekerja siang dan malam hanya demi kelangsungan hidup mereka. Pekerjaannya adalah suatu pekerjaan yang biasa dilakukan perempuan yang di mulai dari menapis beras dan membersihkan ampasnya kemudian memasaknya. Pada upacara Para ini senua penonton berdiri diluar pagar atau memanjati pagar agar bisa melihatnya lebih jelas. Setelah Sa selesai, maka kerbau yang sudah di ikat pada Ngadu pun mulai di tikam dengan parang atau tombak. Orang yang menikam ini boleh orang dari luar yang dijuluki Wunu Bheto Guru dan putra dari kampung itu sendiri atau Ana Tana. Syarat bagi para punggawa ini adalah pemberani, cekatan, gesit dan tidak melepaskan tombak atau parangnya saat mengenai badan kerbau. Upacara pembantaian kerbau ini berlangsung secara berurutan sesuai dengan aturan adat yang ada. Ketika kerbau ditombak kerbau akan berlari mengintari dalam pagar yang sudah dipersiapkan sebelumya. Jika kerbau berhenti penonton bersorak agar kerbau berlari kembali. Para penombak berdiri di ujung barat dan timur. Kerbau akan berlari sekuat tenaga sampai tali yang mengikatnya sudah rentang. Ada juga kerbau yang karena terlalu kencang berlari bisa terjatuh, kesempatan bagi para penombak untuk melukainya. Pembunuhan yang sadis terhadap hewan ini akan berlangsung terus sampai darahnya mulai menyirami seluruh area pembantaian ketika kerbau sudah tidak berdaya, maka di potong pada kedua lutut kaki bagian belakang dengan parang setelah itu kerbau di tarik keluar tempat upacara menuju rumah pemilik kerbau dengan tali yang masih terikat. Pada jaman sebelumnya biasanya kerbau dibiarkan begitu saja di tengah kampung sampai kerbau yang paling akhir terbunuh baru di tarik keluar arena menuju rumah pemilik kerbau untuk di potong. Keduabelas: T’ge ulu Bhada: adalah tahap akhir dari kegiatan Para Zedhe. Setelah semua daging kerbau dimasak atau dibagikan kepada semua anggota suku atau anggota keluarga, maka selanjutnya dilakukan upacara tge ulu bhada (kepala kerbau) pada saat itu ditenda yang sudah disediakan. Mori para meletakan kepala beserta tanduknya sambil mengucapkan kata “Kau Sei”? (siapakah kamu?), setelah itu seorang yang ditugaskan untuk menerima kepala yang berada di atas tenda menjawab ”Za’o tadu Wegu” (saya adalah tadu wegu”). Ucapan ini untuk mengingatkan orang kepada tadu wegu yaitu kerbau yang pertama kali datang ke So’a yang kemudian oleh beberapa orang yang pada waktu itu belum mengenal kerbau menolaknya ke sungai yang kemudian di bawa air menuju Rawe (daerah Kabupaten Nagekeo sekarang) di sana orang Rawe memeliharanya yang kemudian berkembang biak menjadi banyak. Oleh karena itu sebagai penghargaan dan untuk mneghormati binatang ini maka mereka selalu mengingatkannya pada setiap penyimpanan kepala kerbau ini, sehingga arwah dari hewan ini senatiasa tidak murka. SAMPAI DI SINI Fungsi Ritual Adat “Para Zedhe” Di Desa Lo’a Kecamatan So’a Kabupaten Ngada. 1. Fungsi agama Masyarakat So’a pada umumnya dan desa Lo’a khususnya sangat menyadari pentingnya dimensi religius dalam setiap perjamuan. Karena itu pada awal setiap perjamuan mereka selalu mengunfdang kehadiran wujud tertinggi dan leluhur serta memohon restu dari pada-Nya, dengan mebawa persembahan, mebuka perjamuan dengan do’a atau meletakan sesajian di tempat-tempat khusus. Karena hanya pada Yang Maha Tinggi serta arwah leluhur, mereka dapat menemukan nilai tertinggi dari kehidupan dan dasar terdalam dari ekistesnsiatau keberadaannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa upacara adat Para Zedhe merupakan perayaan yang tentu saja menegaskan aspek religius dari masyarakat desa Lo’a mereka menyadari bahwa segala sesuatu yang telah mereka terima adalah anugerah dan berkat dari wujud tertinggi dan leluhur.beberpa hal yang menjadi landasan dasar religius dalam kegiatan ini adalah setiap proses upacara Para Zedhe mereka selalu mengundang para leluhur untuk hadir barsama mereka bahkan mereka meyakini bahwa setiap proses upacara berlangsung ada arwah para leluhur yang hadir menemani mereka, memberi mereka kekuatan agar tidak salah dalam melakukan proses dan lain sebagainya. Hal ini juga dilakukan ketika perjamuan makan bersama dilakukan mereka selalu memberi sesajian kepada nenek moyang dan membiarkan nenek moyang terlebih dahulu mencicipi makanan yang dikenal dengan Fedhi ebu atau t’ii ebu ka. Lebih dari pada itu dengan persembahan tersebut, diciptakan dan dipulihkan kembali suatu keharmonisan hubungan agar tetap terjaga dan tetap dekat dengan wujud tertinggi sehingga kehidupan manusia tetap aman santosa. 2. Fungsi sosial Upacara Para Zedhe dilakukan dengan menghimpun seluruh keluarga besar dan semua anggota suku yang merupakan lambang persatuan dan persaudaraan antara manusia dan sesamanya. Semua yang datang mengambil bagian dari upacara ini di himpun menjadi satu keluarga besar. Semua berpartisipasi dalam setiap kegiatan yang sudah diatur sebelumnya. Kegiatan sosial yang tidak ternilai harganya dan menjadi sangat berarti ketika semua anggota keluarga tersebut mulai menunjukan solidaritasnya terhadap sesama manusia dengan caranya masing-masing. Di tinjau dari aspek sosial ternyata ritual adat Para Zedhe mmepunyai dampak yang sangat besar dalam kehidupan bermasyarakat. Ritual yang selalu diakhiri dengan perjamuan makan bersama bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmaniah semata tetapi lebih dari itu yaitu mempunyai nilai dan fungsi sosial di mana orang yang membuat acara ini (mori para), merasa bahwa sesungguhnya masih banyak orang yang kebutuhan akan pangannya tidak tepenuhi setiap saat. Karena itu yang merasa berlebihan harus mengupayakannya agar semua yang merasa kekurangan itu merasakan juga seperti yang ia rasakan. Hal lain lagi yang bernilai sosial bahwa dengan adanya upacara ini semua yang telah terhimpun merasakan sendiri indahnya hidup dalam kebersamaan yang memang sudah lama di lakukan oleh para nenek moyang dahulu agar tetap di pertahankan. Istilah ‘Ngeta ngata ge ngia, Mami kita nenga ka” adalah sebuah istilah yang mempunyai maksud penyatuan sosial yang sangat dalam yang mana sesungguhnya segala seuatu yang siap untuk dihidangkan, maka setiap kita berkenan untuk menikmatinya secara bersama-sama dan dalam suasana keluarga. 3. Fungsi Pendidikan Fungsi pendidikan dalam setiap upacara adat tentu sangatlah penting, di mana nilai pendidikan yang ada akan mendidik seseorang agar menjadi lebih baik dan menjadi tempat belajar bagi yang membutuhkannya. Fungsi pendidikan dalam upacara adat Para Zedhe ternyata berdampak sangat luas. Apa yang dilkukan orang tuanya (pembuat acara para zedhe) akan meberikan contoh moral kepada anak anak mereka misalnya mengambil istri yang ada hubungan darah terutama di bawah lapis keempat akan berakibat buruk kepada aak-anak mereka suatu saat nanti. Pembagian harta warisan yang dilakukan adalah contoh didikan yang baik kepada anak-anak mereka sehingga suatu saat nanti tidak menyisakan hal yang buruk terhadap anak-anak mereka sepeninggal dia. Apabila ini tidak dilakaukan, maka bisa saja terjadi kekacauan pada keluarga mereka sendiri dimana perebutan harta warisan antar saudara bisa terjadi. Didikan yang baik juga didapat dari kebaikan terhadap sesama anggota keluarga agar bisa saling menghargai apa yang sudah diberikan oleh orang tua dan menjaga serta menganggap harta warisan tu sebagai emas yang akan mendatangkan hasil yang banyak kalau dikerjakan dengan baik dan tanpa kenal lelah. Hal lain yang juga merupakan aspek pendidikan kepada generasi penerus adalah tindakan yang dilakukan orang-orang tua yang menjaga hubungan yang baik dengan orang lain akan mendatangkan hal yang baik dan membawa berkah bagi diri kita sendiri, ini dilakukan dengan cara membagikan makan dan minum kepada semua yang hadir dengan adil tanpa memandang bulu. Setiap yang hadir akan merasakan sesuatu yang kita berikan tersebut dan mereka akan selalu mengingatkan kita di manapun kita berada. Upaya-Upaya yang dilakukan agar Ritual Adat “Para Zedhe” Di Desa Lo’a tetap dilestarikan. Beberapa upaya yang dilakukan agar upacara ini tetap dilestarikan menurut bapak Darius Meo (56 thn) adalah dengan mengurangi beberapa materi yang dipergunakan dalam ritual ini seperti setiap peserta Para Zedhe hanya boleh mengurbankan satu ekor kerbau dengan ukuran tanduk minimal 50 cm, mengingat harga kerbau yang semakin mahal dan populasinya yang semakin berkurang. begitupun dengan beras dengan babi yang dikumpulkan untuk dimakan oleh seluruh anggota masyarakat (umum). Ini dimaksudkan agar semua yang datang bisa manghabisi semua dengan tidak menyisakan makanan (nasi atau daging) yang terlalu banyak sehingga kalau disimpan akan menjadi basi. Usaha yang lainnya adalah dengan mengadakan kerja sama dengan pemerintah dan pihak keamanan setempat agar bisa memfasilitasi kegiatan Para Zedhe berupa keamanan dan menjaga agar kegiatan ini dapat berhasil dengan baik. Selain itu kahadiran pemerintah juga akan berdampak positif yaitu secara tidak langsung mempublikasikan ritual ini sehingga akan bisa menarik para wisatawan. Selain beberapa usaha yang dilakukan di atas pemerintah desa dan tokoh masyarakat juga mulai terbuka kepada pihak-pihak yang membutuhkannya terutama para pemerhati budaya dan pendidikan untuk bisa mempelajari lebih dalam lagi tentang ritual adat Para Zedhe termasuk kepada penulis sendiri dengan memberikan kemudahan bagi orang-orang yang membutuhkan tersebut mewawancarai atau menggali informasi dari tokoh masyarakat, para mosalaki, atau tokoh pemuda setempat. PENUTUP 1. Kesimpulan Ritual adat Para Zedhe merupakan warisan adat leluhur yang perlu dijaga dan dilestarikan, karena di dalam ritual ini terdapat makna yang sangat mendalam bagi kelangsungan hidup bermasyarakat. Ritual adat Para Zedhe dibuat untuk 1. Menelusuri keturunan dari pihak ibu sampai lapis ke-empat, sehingga suatu saat nanti anak-anak mereka tidak salah memilih istri. Hal ini dilakukan karena dari segi kesehatan menurut persepsi adat menikah dengan orang yang masih mempunyai hubungan darah yang dekat dapat mengakibatkan sesuatu yang tidak baik bagi anak-anak mereka nanti. Hal ini juga dilakukan agar keturunan yang telah terjalin dapat diingat kembali sehingga persaudaraan yang telah terjalin terdahulu dapat diketahui kembali. 2. Untuk mebagikan warisan kepada anak-anak dari Mori Para yang dilakukan di depan orang banyak secara resmi. Sehingga semua orang dapat mengetahui dan sebagai saksi kalau suatu saat nanti terjadi sesuatu atas warisan yang sudah di bagikan itu. 3. untuk menjaga hubungan yang baik dengan para leluhur dan wujud tertinggi (Dewa Zeta Nitu Zale), karena dalam setiap proses yang terlewati diyakini leluhur selalu menuntun, memberi jalan dan merestui setiap kegiatan itu. Karena itu keharmonisan yang telah dijaga itu harus tetap diperahankan kalau manusia ingin bebas dari segala sesuatu yang tidak diinginkan dalam hidupnya. 2. Saran Dalam rangka melestarikan budaya dan kemurnian nilai-nilai dalam adat istiadat desa Lo’a, maka penulis menyarankan kepada: Tokoh adat selaku pemegang kekuasaan pemerintah adat dan masyarakat adat desa Lo’a agar tetap melaksanakan semua ritual adat yang berkaitan dengan proses ritual adat para zedhe secara murni yang merupakan warisan leluhur agar tidak hilang atau punah akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi yang kian pesat. Pemerintah desa Lo’a untuk terus menetapkan dan mempertahankan serta melestarikan budaya daerah dengan cara mendokumentasikan semua kegiatan adat dan prosesnya termasuk ritual adat Para Zedhe, karena generasi penerus mungkin akan banyak yang tidak mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan proses upacara adat dan maknanya. Selain itu dokumentasi ini juga bisa berfungsi untuk memperkenalkan lebih jauh lagi kepada orang-orang yang belum mengenal dan berfungsi sebagai sarana bagi orang yang membutuhkannya sehingga bisa diperoleh informasi tentang ritual adat ini dengan mudah. Pemerintah kabupaten Ngada dalam hal ini Dinas Pendidikan dalam melengkapi sumber belajar dalam program pendidikan daerah Nusa Tenggara Timur. Demikian pula halnya Dinas Pariwisata untuk terus mengembangkan obyek wisata budaya sehingga bisa mendatangkan devisa bagi daerah setempat. Terima Kasih Telah Mengunjungi Blog Ini Dipublikasikan Oleh: M.Nur MJBS FM Copy Paste by Blogger : http://skripssejarahwatunggere.blogspot.com/2012/06/ritual-adat-para-zedhe-suku-ngada.html

Tidak ada komentar:

You Tube

1 Syawal 1435 H

Assalamu'alaikum,Allhamdulillah Puasa Ramadhan Usai,insya Allah pahala dan ridha-Nya di capai. Ulon Tuan Ucapkan SELAMAT 'IDUL FITRI 1435 H. MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN. Salam ta'zim ULONTUAN TGK MUHAMMADNUR,MA dan Keluarga Besar Tgk Chik Datok Bale Kuta Meuligou serta Keluarga Besar Tgk Chik Ali Tanjong Kuta Meuligoe Sawang Utara Aceh Utara. Kami Keluarga Besar Radio Komunitas Petani dan Dakwah MJBS FM Kuta Meuligoe Ucapkan Jutaan Terima Kasih Atas Maaf Saudara - Saudara Kami di Alam Maya dan Alam Nyata. ttd. Tgk Muhammadnur,MA Pimpinan dan Pendiri Radio Komunitas Petani Dan Dakwah Meuligou Jaya Bina Sentosa FM 107,8 Mhz ( Rakom Petani dan Dakwah MJBS FM 107,8 Mhz). Sahabat Setia Sepanjang Masa.